Pertanyaan 160. Apa yang dituntut dari mereka yang mendengarkan khotbah?
Pertanyaan 160. Apa yang dituntut dari mereka yang mendengarkan khotbah?
Jawab. Yang dituntut dari mereka yang mendengarkan khotbah adalah mereka harus tekun, berdoa, dan siap sedia, mengikuti khotbah, memeriksa apa yang telah mereka dengar dengan Alkitab, dan jika itu benar, menerimanya di dalam hati mereka sebagai firman Allah dengan iman, kasih, kelembutan, dan hati yang siap sedia, merenungkannya, merujuknya, menyimpannya di dalam hati mereka, dan menghasilkan buah firman dalam hidup mereka.
Ada dua jenis orang dalam komunitas gereja: mereka yang telah dipilih dan dilahirkan kembali, dan mereka yang telah dipanggil dan datang ke gereja.
Orang kudus adalah orang-orang yang fasih dalam Firman Allah, mengetahui kehendak Allah, selalu merenungkan Firman, berdoa, dan mencurahkan seluruh energi mereka untuk menyebarkan Injil. Orang kudus memiliki kemampuan untuk membedakan ketika mendengarkan khotbah pendeta. Mereka dengan tegas menolak legalisme yang tidak benar, takhayul, dan khotbah-khotbah gnostik, tetapi bersimpati dengan khotbah-khotbah yang mengejar kerajaan Allah dan kebenaran, dan, merenungkan diri mereka sendiri, mengabdikan diri untuk menyebarkan Injil.
Namun, orang percaya baru yang telah dipanggil dan masuk ke dalam komunitas gereja mungkin tidak tahu banyak tentang Firman Tuhan dan mungkin terpengaruh oleh khotbah pendeta. Oleh karena itu, orang percaya membutuhkan kemampuan untuk menilai apakah khotbah pendeta bersifat legalistik, takhayul, atau gnostik.
Legalisme cenderung terobsesi dengan firman tertulis Alkitab. Oleh karena itu, kita harus waspada terhadap khotbah-khotbah pendeta yang mengatakan bahwa karena Alkitab mengatakan demikian, orang percaya harus bertindak sesuai dengan Alkitab. Legalisme menyukai aturan dan tradisi. Tidak hanya di era Perjanjian Lama, tetapi juga di era Perjanjian Baru, legalisme suka menghakimi berdasarkan doktrin. Dan legalisme ingin mengikat orang percaya dengan menekankan tradisi-tradisi komunitas gereja. Legalisme menghadirkan hari-hari raya baru, perayaan hari Minggu, persepuluhan, dan bangunan gereja sebagai bait suci. Kita harus waspada terhadap pendeta yang berkhotbah seperti ini.
Orang percaya hendaknya waspada terhadap pendeta yang berkhotbah bahwa "Kerajaan Allah itu baik, dan bahwa seseorang dapat menerima berkat materi dari Allah selama hidup di dunia." Orang percaya juga hendaknya waspada terhadap mereka yang berkhotbah bahwa jika seseorang memberikan banyak materi kepada Allah, mereka akan menerima berkat materi yang lebih besar lagi.
Gnostisisme (mistisisme) mengarah pada iman yang berpusat pada diri sendiri. Orang percaya hendaknya waspada terhadap pendeta yang berkhotbah, mengatakan, "Mari kita hidup seperti Yesus," atau "Mari kita berusaha untuk menjadi kudus," atau "Mari kita berusaha untuk diciptakan menurut gambar Allah." Orang percaya juga hendaknya waspada terhadap pendeta yang menunjukkan kepada orang percaya bahwa mereka memiliki kuasa rohani melalui pengalaman rohani yang mistis. Orang percaya juga hendaknya waspada terhadap pendeta yang menjelaskan bahasa roh dan nubuat dengan cara yang tidak sesuai dengan Alkitab.
Orang percaya baru yang baru saja memasuki komunitas gereja mungkin tidak memiliki kemampuan untuk membedakan apakah isi khotbah pendeta itu benar atau tidak. Namun, inti khotbah seharusnya selalu Injil yang menyatu dengan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, dan jika kita menilainya berdasarkan hal itu, kita dapat memahami makna khotbah tersebut sampai batas tertentu.
Alasan orang percaya atau anggota gereja berpartisipasi dalam komunitas gereja bukanlah untuk mendengarkan khotbah pendeta, melainkan untuk berkumpul bersama menyembah Tuhan, memuji-Nya, dan bekerja keras menyebarkan Injil melalui persekutuan di antara orang percaya. Tentu saja, ada khotbah yang mewartakan firman dalam ibadah. Namun, jika Anda pergi ke gereja untuk mendengarkan khotbah, akan lebih baik jika mendengarkan khotbah melalui internet. Makna sejati komunitas gereja terletak pada pewartaan Injil. Jika pertobatan dan kematian serta kebangkitan Yesus Kristus di kayu salib tidak ada, maka itu bukanlah firman Tuhan. Bahasa Indonesia: Jika firman kebenaran Allah, yang adalah Ho Logos dalam Alkitab, dipelihara di dalam hati orang percaya melalui khotbah pendeta, menyentuh hati mereka, dan mengubah hidup mereka melaluinya, maka khotbah tersebut disampaikan kepada orang percaya melalui mulut pendeta, tetapi pada akhirnya menjadi firman Allah bagi orang percaya. Oleh karena itu, orang percaya hendaknya tidak terobsesi dengan firman Allah, tetapi menyimpannya di dalam hati mereka sambil memikirkan kehendak yang Allah berikan kepada mereka, dan kemudian hidup mereka akan berubah sesuai dengan kuasa Roh Kudus.
2 Petrus 1:4-7 『Dengan demikian Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji-Nya yang berharga dan sangat besar(ἐπαγγέλματα), sehingga melaluinya kamu dapat mengambil bagian dalam kodrat ilahi(Deias Koinonoi Physeoos), setelah luput dari kebinasaan yang ada di dunia karena keinginan-keinginan jahat. Karena itu, berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, kepada kebajikan pengetahuan, kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan; kepada ketekunan, kesalehan; kepada kesalehan, kasih persaudaraan; kepada kasih persaudaraan, kasih』 (Deias Koinonoi Physeoos).
Epankelmita (ἐπαγγέλματα) adalah sebuah janji, sebuah janji untuk memberikan Kerajaan Allah sebagai warisan.
Komentar
Posting Komentar